Sabtu, 26 April 2014

Pembangunan Asrama Putri 2

Alhamdulillah, pada tanggal 26 April 2014 dini hari tadi telah dinyatakan rampung 60% proses pembangunan Asrama Putri 2 Pondok Pesantren Terpadu Al Fauzan. Semua ini tak luput dari doa bapak/ibu/saudara sekalian.

Tampak Bangunan Asrama Putri 2

Awal Pembangunan Asrama Putri 3
 
Selanjutnya kami mohon doa bapak/ibu/saudara untuk pembangunan Asrama Putri 3 dan jembatan baru sebagai jembatan penghubung utama. Semoga semuanya diberi kelancaran dan tidak ada kendala yang menghambat.

Rabu, 16 April 2014

Ujian Nasional MA Pester Al Fauzan


Suasana Peserta UN dalam ruang ujian

     
"Alhamdulillah", ucapan syukur karena telah diberikan kelancaran dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Sebuah kegiatan yang kerap kali menjadi momok menakutkan bagi para peserta didik maupun pihak sekolah sendiri. Pasalnya waktu belajar yang telah ditempuh selama 3 tahun ditentukan hanya dalam waktu 3 hari,“Tiga hari untuk menentukan tiga tahun” begitulah sebuah kalimat guyonan para peserta didik MA Pester Al Fauzan. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri dengan predikat sekolah yang usianya masih relatif muda yang hanya mengeluarkan 1 lulusan sudah bisa menjadi sekolah penyelanggara UN dan bisa terakreditasi dengan cepat dengan predikat A pada akhir tahun 2013 kemarin.
          Dalam pelaksanaan UN yang diselenggarakan pada tanggal 14-16 April 2014 diikuti oleh 28 peserta didik yang terbagi atas 11 peserta didik kelas XII IPA dan 17 peserta didik kelas XII IPS. Selain diawasi oleh 5 pengawas dari kabupaten Lumajang yakni Elfi Mariatul M., M.Pd (SMAN 3 Lumajang), Ratna Indrianingrum, S.Pd. (SMAN Senduro), Tri Wulandari, S.Pd (SMAN Senduro), Drs. Haryanto (SMAN 3 Lumajang) dan Ika Titik Agustina, S.Pd (MA Darun Najah) , juga diawasi oleh Efa Mutitul Choiroh, SH. M.Kn sebagai Tim Pengawas Satuan Pendidikan dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dan juga Edi Nanang, S.H, S.Pd.I, M.Pd  sebagai koordinator Naskah UN Rayon 30 Sub Rayon 51.
Peserta UN bersama Pengawas
          “Lega,  bebas dan tanpa beban rasanya setelah menyelesaikan soal-soal UN selama 3 hari kemarin yang selain membutuhkan kejelian dan keuletan dalam mengerjakannya,  juga sangat membutuhkan kehati-hatian  dalam menjaga naskah soal dan jawaban agar tidak rusak”, begitulah perasaan yang diungkapkan oleh Em Bagus Sulthonil Auliya, salah satu peserta UN MA Pester Al Fauzan dari kelas XII IPA. Tentunya, selain harus siap dalam hal penguasaan materi juga harus siap  mental untuk menghadapi UN yang harus dipersulit dengan sistim Barcode yang berakibat harus mengganti naskah soal dan jawaban apabila ada salah satunya yang rusak.
          Tidak hanya peserta UN yang merasakan lega akan terselenggaranya UN tetapi juga dari panitia sekaligus guru juga merasakannya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadzah Atik Hasanah, S.S selaku guru Bahasa Inggris dan ketua panitia UN di depan peserta didiknya “anak-anakku sekarang tibalah saat membahagiakan sekaligus menyedihkan, bahagia karena saya merasa sangat lega telah mendidik dan mengajar kalia, sedihnya karena kita harus berpisah. Semoga kalian mendapatkan nilai yang memuaskan dan semoga kalian dapat mengamalkan ilmu yang sudah kalian pelajari di sekolah”, begitulah ungkapnya yang sambil meneteskan air mata keharuan.
          Tentunya, semua pihak MA Pester Al Fauzan mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kinerja dari panitia dan tentunya mengharapkan hasil yang terbaik, Amin.

Sabtu, 12 April 2014

Kronologi Sejarah Ujian Nasional

Ujian nasional (UN), selalu menjadi perbincangan masyarakat setiap tahunnya. Mulai dari sistem ujian yang terlalu susah, sampai pelaksanaan UN yang terhambat, menjadi salah satu topik utama.

Tapi, tahu enggak sih kalian kapan sejarah UN itu ada? Yuk kita lihat sejak kapan ujian nasional ini didirikan.

1950-1960anUjian akhir pada tahun ini disebut Ujian Penghabisan. Ujian penghabisan dilakukan secara nasional dan seluruh soal dibuat Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Seluruh soal dalam bentuk esai. Hasil Ujian tidak diperiksa di sekolah tempat ujian, tetapi di pusat rayon.

1965-1971Semua mata pelajaran diujikan dalam hajat yang disebut ujian Negara. Bahan ujian dibuat oleh pemerintah pusat dan berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Pemerintahan waktu ujian.

1972-1979Pemerintah memberikan kebebasan setiap sekolah atau sekelompok setiap sekolah atau sekelompok sekolah menyelenggarakan ujian sendiri. Pembuatan soal dan proses penilaian dilakukan masing-masing sekolah atau kelompok. Pemerintah hanya menyusun pedoman dan panduan yang bersifat umum.

1980-2000Mulai dari diselenggarakan ujian akhir nasional yang disebut evaluasi belajar tahan akhir nasional (Ebtanas). Model ujian akhir ini menggunakan dua bentuk yaitu Ebtanas untuk mata pelajaran pokok sedang EBTA untuk mata pelajaran non-ebtanas.

Ebtanas dikoordinasikan pemerintah pusat dan EBTA dikoordonasi pemerintah provinsi. Kelulusan ditentukan oleh kombinasi dua evaluasi tadi ditambah nilai ujian harian yang tertera di buku rapor.

2001-2004Ebtanas diganti menjadi ujian akhir nasional (Unas). Hal yang menonjol dalam peralihan nama Ebtanas menjadi UNAS adalah penentuan kelulusan siswa, yaitu dalam Ebtanas kelulusananya berdasarkan nilai Ebtanas Murni, sedangkan Unas ditentukan pada mata pelajaran secara Individual.

2005-2009Perubahan sistem yaitu pada target wajib belajar pendidikan (SD/MI/SD-LB/MTS/SMP/SMP-LB/SMA/MA/SMK/SMA-LB), sehingga nilai kelulusan ada target minimal.

2010-sekarang Unas diganti menjadi Ujian Nasional (UN). Dengan target, para minimal UN sehingga dapat lulus UN dengan baik.

Perlu diketahui, ujian negara ternyata mempunyai tiga landasan lho. Pertama, UU sistem pendidikan Nasional (sisdiknas) nomor 20/2003. Kedua PP nomor 19/2005 tentang standar nasional pendidikan. Ketiga, Permendiknas 47/2006.

Sumber: Litbang Sindo (ade)
http://kampus.okezone.com/read/2014/04/18/560/972438/kamu-tahu-nggak-sih-sejarah-un